Drama Korea, Tv Series Barat, Download Film, Streaming Subtitle Indonesia
Agen Judi Online, Agen Bola, Bandar SBOBET, Agen Casino Online agen sbobet
Pasang Iklan Pasang Iklan

Kung Fu Wing Chun

Kung Fu Wing Chun    

N/A 110 min ActionAsiaComedyRomance

6.7
IMDB: 6.7/10 295 votes

, , ,

N/A

China, Hong Kong

205

Report error

Wing Chun Michelle Yeoh dulu pernah membintangi Wing Chun besutan Yuen Woo-Ping, dan filmnya dirilis hampir 20 tahun silam, namun popularitas seni beladirinya sendiri yang konon tercipta pada masa Dinasti Qing memang baru meraih puncaknya belakangan ini, terutama pasca kesuksesan dua film Ip Man di tangan Wilson Yip yang dibintangi oleh Donnie Yen. Bahkan sineas-sineas Hong Kong lain seperti Herman Yau seakan tak mau ketinggalan turut menyajikan sebuah kisah Ip Man di masa mudanya, dan segera menyusul Wong Kar Wai dengan The Grandmasters yang sayangnya hingga kini belum kunjung tiba dirilis.

Wing Chun Jika menyimak film-film Ip Man dengan seksama, ada beberapa momen di mana Ip Man sempat diolok-olok oleh lawannya karena dirinya dianggap menggunakan ilmu beladiri untuk wanita. Ini sesuai fakta di mana Wing Chun memang diciptakan oleh seorang wanita, dengan memegang prinsip dan gerakan yang ditujukan untuk pembelaan diri bagi kaum hawa. Mengambil jalur serupa dengan Wing Chun milik Yuen Woo-Ping, Kung Fu Wing Chun ini juga memfokuskan tentang asal-usul, pengembangan, dan pendiri alirannya sendiri; Yim Wing-Chun, jauh sebelum disangkut pautkan dengan tokoh Ip Man.

Dikisahkan, Yim Wing-Chun (Bai Jing) tinggal bersama ayahnya dan tumbuh menjadi gadis tomboi yang suka dengan ilmu beladiri. Dalam kesehariannya, ia bekerja di restoran tofu yang dikelola ayahnya sendiri di gunung Da Liang. Namun kegemarannya akan ilmu beladiri membuat Wing-Chun sering terlibat masalah, dan banyak pria yang harus berpikir dua kali sebelum meminangnya karena sifatnya yang sedikit-sedikit main hajar. Sementara, seorang pemuda terpelajar bernama Liang Bao-Chou (Yu Shao-Qun) terus didesak orang tuanya untuk berjodoh dengan Wing-Chun. Konflik bermula ketika seorang pemuda kaya nan sombong; Gao-Shing (Alan Ng Wing-Lun), mengincar Wing-Chun untuk dijadikan istrinya dengan cara paksa. Wing-Chun yang menolak kemudian menyelesaikan masalah ini lewat sebuah pertarungan yang sayangnya tak mampu dimenangkannya. Takdir kemudian mempertemukan Wing-Chun dengan seorang biarawati bernama Ng Mui (Kara Hui) yang kelak menjadi gurunya dan mengajari ilmu baru agar dapat mengalahkan Gao-Shing. Namun ancaman yang jauh lebih besar muncul ketika gaya bertarung Wing-Chun dikenali oleh Kam Ying (Collin Chou), pemimpin pasukan pemerintahan Qing yang tengah melacak keberadaan seorang pelarian kuil Shaolin yang dianggap sebagai sisa-sisa pemberontak. Pasukan Kam Ying mulai menelusuri kota dan membantai siapa pun tanpa ampun yang berani menghalangi, meninggalkan Wing-Chun dengan sebuah keputusan besar yang harus diambilnya demi melindungi guru beserta keluarganya.

Selain disutradarai oleh Joe Cheung Tung-Cho (The Incredible Kung Fu Master), film ini turut diproduseri oleh Ng See-Yuen; sineas asia yang meniti karirnya dalam industri perfilman Hong Kong sejak era Shaw Brothers, dan pada tahun 1975 mendirikan Seasonal Films Corporation, di mana pernah memproduksi Snake in the Eagle’s Shadow dan Drunken Master yang mengorbitkan nama Jackie Chan. Pada tahun 1985, See-Yuen adalah produser Hong Kong pertama yang melebarkan sayapnya di Amerika Serikat dengan memperkenalkan ciri khas laga Hong Kong ketika ia bekerja sama dengan Corey Yuen dalam No Retreat, No Surrender yang dibintangi Kurt McKinney dan Jean-Claude Van Damme. Ia juga kemudian turut memproduseri Twin Dragons di tahun 1992 dan empat seri Once Upon a Time in China.

Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dengan Kung Fu Wing Chun dari sisi cerita, selain diberi sedikit rombakan, namun tetap setia mengikuti pakem sejarah aslinya. Akan tetapi, cerita yang tidak terlalu istimewa ini berhasil dikemas sedemikian rupa menjadi sebuah tontonan semi biografi yang hadir lebih ringan dengan racikan elemen romantis dan bumbu komedi sehingga terkesan membuatnya berbeda. Baik dari tampilan, visual, maupun formulanya mengingatkan dengan film-film silat Hong Kong di kurun waktu 90-an yang membuat keseluruhan alurnya seakan terbagi menjadi dua bagian, di mana nyaris dalam satu jam pertama dari durasinya dihabiskan oleh adegan-adegan yang ditujukan untuk menghibur semata lengkap dengan bumbu slapstick serba kekanak-kanakan dan suara-suara a la film kartun di dalamnya, sedangkan bobot cerita sebenarnya baru muncul di paruh terakhir dengan tone yang berubah menjadi lebih kelam. Dengan durasi 110 menit, banyak adegan tidak perlu yang apabila dihilangkan sebenarnya tidak akan mengganggu jalannya plot cerita utama.

Sebagai sebuah film laga yang kental menawarkan unsur seni beladiri, tentu sekuens pertarungan merupakan sorotan utama yang paling ditunggu. Koreografi di bawah arahan Stephen Tung Wei (Hard Boiled; Once Upon a Time in China V) — meski tidak spektakuler — ditampilkan cukup menarik dengan sentuhan wirework dan eksplorasi keanggunan beladiri Wing Chun sendiri yang baik dari tempo dan eksekusinya tertata cukup rapi. Jangan berharap kalau pertarungannya akan sekeras Ip Man dengan pukulan beruntun khasnya, karena di sini memang digambarkan sosok Wing-Chun yang masih hijau. Namun justru di sinilah bagaimana kisahnya menampilkan tahap awal proses pengembangan dan sisi feminin dari alirannya. Terkadang pertarungannya seperti mengajak kita bernostalgia dengan koreografi yang mengingatkan akan film-film klasik Shaw Brothers. Meski versi Yuen Woo-Ping secara keseluruhan tetap terasa jauh lebih baik, minimal pertarungannya di sini masih menghibur tanpa harus menyalahgunakan kinerja CGI (kecuali untuk beberapa efek latar belakang), dan untungnya tidak sampai sehambar dan semenyedihkan Ip Man: The Legend is Born.

Meski memasang beberapa nama-nama senior, tak bisa dipungkiri bahwa 80% jualan film ini adalah Bai Jing, yang benar-benar mencuri perhatian sebagai protagonis, di mana sebelumnya ia berhasil menyingkirkan 200 peserta audisi dan dilatih khusus oleh keturunan langsung dari Ip Man; Ip Chun, dalam kurun waktu setengah tahun untuk film ini. Dengan wajah manis memikatnya, Bai Jing membawa keceriaan dalam film ini dan tak menutup kemungkinan kita akan melihat penampilan berikutnya ke depan. Dua nama senior seperti Kara Hui masih terlihat berkarisma sebagaimana ia berperan dalam film-film wuxia era klasik Shaw Brothers, sementara Wai Tin-Chi perannya terkesan hanya tempelan belaka. Yuen Wah dan Yuen Qiu kembali berpasangan untuk kesekian kalinya sebagai peran kecil guna memancing tawa penonton. Untuk adegan klimaksnya, Bai Jing dihadapkan dengan Collin Chou, yang tetap masih memiliki serangkaian jurus-jurus mematikan, namun porsinya memang hanya sebatas menjadi lawan terakhir tanpa eksplorasi lebih detil.

Sayangnya, dengan masih banyaknya adegan maupun dialog cheesy yang ada di sini menimbulkan kesan bahwa dari segi storyline kurang digarap secara serius. Andai saja baik dari cerita dan alurnya diperkuat, perkembangan karakter dihadirkan lebih baik, dan beberapa dialog dirapikan, bisa jadi film ini tampil lebih unggul ketimbang meninggalkan kesan dibuat terburu-buru hanya karena latah demi mengekori fenomena Wing Chun yang saat itu tengah marak, mengingat film ini dirilis di tahun yang sama dengan Ip Man 2 dan Ip Man: The Legend is Born.

Kung Fu Wing Chun
Kung Fu Wing Chun
Kung Fu Wing Chun
No links available
No downloads available

Related movies